Minggu, 01 Januari 2017

FILSAFAT BAHASA

  FILSAFAT BAHASA 
 
Bahasa dan filsafat merupakan dua sejoli yang tidak terpisahkan. Mereka bagaikan dua sisi mata uang yang senantiasa bersatu. Minat seseorang terhadap kajian bahasa bukanlah hal baru sepanjang sejarah filsafat. Semenjak munculnya Retorika Corax Dan Cicero pada zaman Yunani dan Romawi abad 4-2 SM hingga saat ini (Post Modern), bahasa merupaka salah satu tema kajian filsafat yang menarik.
            Akan  tetapi, perhatian dunia filsafat terhadap bahasa belum pernah begitu luas, umum, dan mendalam seperti sekarang ini. Dapat dikatakan, perhatian filsafat terhadap bahasa saat ini sama agungnya dengan “being” (Yang Ada) dalam filsafat klasik dulu. Dalam diri keduanya ada kemiripan, konsep “being” dan bahasa sama-sama memiliki universalitas. Perbedaanya terletak dalam variasi sudut pandang.
            Salah satu hal yang mencolok dan sekaligus mengagumkan, bahwa dalam berbagai aliran filsafat abad ke-20 hingga sekarang, seperti dalam fenomenologi, eksistensialisme Heidegger, filsafat analitik masalah bahasa memainkan peranan yang sangat besar. Jika bahasa dimengerti dalam arti luas, yaitu dalam arti “teks”, “texture” atau jalinan struktur-struktur, maka akan mendapatkan banyak filosof yang digolongkan sebagai yang memiliki kecenderungan logosentrisme.
            Dengan tidak mengecilkan filsafat Barat abad ini, bahwa dalam tradisi filsafat Islam pun sepanjang sejarah perkembangannya, masalah bahasa telah menjadi tema sentral kajian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar