Sabtu, 24 Desember 2016

APA YANG SEHARUSNYA ANAK SD PELAJARI?



APA YANG SEHARUSNYA ANAK SD PELAJARI?


Dengan penerapan kurikulum 2013, ada perubahan berarti dalam apa yang harus dipelajari oleh anak SD di Indonesia. Mapel di SD berubah menjadi Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya, Penjaskes Olahraga, sementara IPA dan IPS diajarkan secara terpadu dan tematik. 
Sebenarnya apa yang harus dipelajari anak SD?
Anak-anak yang duduk di bangku SD adalah anak-anak yang berusia 6 tahun sampai dengan 12 tahun. Dalam rentang usia seperti itu, sudah dipelajari dalam psikologis perkembangan bahwa mereka adalah manusia muda yang sedang dipersiapkan menghadapi kegiatan belajar yang sesungguhnya, yaitu kegiatan belajar yang mengoptimalkan penggunaan otak, hati, dan fisik.
Anak-anak SD dalam perkembangan intelektualnya belum dapat memahami konsep-konsep yang abstrak, tetapi mengenali benda-benda secara kongkritnya saja. Sehingga sulitlah dia diajari tentang konsep-konsep akidah, selain membiasakannya dengan perbuatan-perbuatan yang merupakan implikasi akidah yang baik.
Secara emosional, anak-anak masih labil, dan belum bisa mengontrol emosinya sendiri. Sehingga wajar, jika meminta sesuatu dan tidak dipenuhi, maka mereka akan menangis. Jiwa sosialnya juga belum matang, sehingga ketika bermain dengan teman, masih sering muncul pertengkaran tentang kepemilikan alat bermain.
Dalam kemampuan bahasa, mereka sedang belajar meniru ucapan-ucapan yang diucapkan oleh orang dewasa, kadang-kadang mereka sekedar menirunya tanpa tahu artinya. Mereka belum bisa membedakan bahasa yang sopan dan harus diucapkan kepada siapa. Makanya jangan heran, ketika dia mengajak berkenalan orang dewasa, dia dengan lugunya mengatakan, “Namamu siapa?” Dia belum tahu apa perbedaan, “mu”, “nya”, “Bapak/Ibu”, dll.
Pada dasarnya siswa di SD dapat dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu Kelas rendah (kelas 1, 2, dan 3), dan kelas atas (4,5, 6). Bahkan jika hendak dibagi lebih ketat lagi, kelas 1,2, dan 3 adalah kelas rendah, kelas 4 dan 5 adalah kelas menengah, dan kelas 6 adalah kelas atas. Pembagian ini menentukan perbedaan pengetahuan dan keterampilan yang seharusnya dididikkan.
Anak-anak kelas rendah adalah kelompok yang baru saja mengalami proses peralihan dari fase bermain di TK menjadi proses “duduk dengan tenang” di atas kursi, dan mulai “bersiap-siap” untuk belajar. Apa yang dipelajari dalam Masa Persiapan Belajar? Mereka diajari sikap-sikap baik dalam belajar, misalnya duduk dengan tegak, tidak berbicara ketika guru menerangkan, tidak berteriak, tidak menangis (attitude), menggunakan pensil dengan benar untuk menulis (writing), membunyikan huruf, suku kata, dan menyatukannya dengan penyebutan yang benar (reading), menghitung benda-benda yang dimilikinya, yang ada di sekitarnya untuk membedakan sedikit dan banyak (counting), dan menggabungkan kata-kata sederhana menjadi kalimat pendek (speaking).
Anak-anak pada kelompok kelas rendah selain belajar menjadi “manusia di dalam kelas”, juga belajar menjadi “manusia di dalam keluarga dan lingkungan rumahnya”. Di sekolah, dia tidak diajari melipat baju, merapikan tempat tidur, mandi sendiri, membantu ibu menyiapkan sarapan, merapikan meja makan, dll, oleh karena itu pembiasaan yang lekat dengan keperluannya sehari-hari perlu dituntunkan di rumah. Dan ini bukan dilakukan oleh PEMBANTU, tetapi oleh IBUNYA.
Dalam kaitannya sebagai makhluk sosial, dia dibimbing mengenali kehidupan bersama. Ketika berjalan di trotoar, tidak hanya dia yang berjalan di situ, tetapi ada pejalan kaki yang lain, ada pengendara sepeda, ada pemakai sepatu roda, ada orang buta dan cacat, ada kakek-nenek, sehingga dia perlu belajar “berbagi jalanan”. Ketika berada di dalam kendaraan umum, dia belajar mengenali para pengguna kendaraan umum, dan dia sekaligus belajar “berbagi kendaraan”. Dia melihat peristiwa-peristiwa itu sehari-hari, dan guru di sekolah berfungsi membantunya memahami fakta konkgrit itu melalui penjelasan yang mudah dimengerti oleh anak.
Berdasarkan logika berpikir di atas, maka anak-anak kelas rendah sebaiknya diajari pembiasaan tugas-tugas kemandirian sehari-hari melalui satu mapel, misalnya Life skill atau kalau di Jepang dikenal dengan istilah Seikatsuka (生活科). Pelajaran yang berfungsi untuk pembentukan fisik, kejiwaan/kepekaan, dan kemampuannya untuk belajar perlu diberikan pada level ini. Pelajaran Berhitung (bukan matematika), pelajaran olah raga, seni musik, seni lukis, keterampilan, bahasa (ibunya), moral , praktek ibadah sesuai agamanya, itulah yang perlu diberikan. Fungsi dari mapel itu adalah mempersiapkan siswa untuk belajar yang lebih tinggi dan rumit.
Di kelas-kelas atas, otak, emosi, spiritual, dan jiwa sosial anak mulai berkembang ke level siap belajar dan berargumentasi yang sederhana. Dia mulai belajar memahami fakta-fakta alam dan masyarakat di sekitarnya. Dia mulai memahami mengapa di jalan raya perlu diberi lampu lalu lintas, dan mengapa semua kendaraan harus berhenti ketika lampu merah menyala. Dia juga mulai bisa mencerna, mengapa ketika hendak naik kereta, semua harus antri membeli tiket, dan berbagai norma-norma dasar dan prinsip dalam masyarakat.
Dalam kaitannya dengan sains, dia belajar tentang konsep asal-usul makhluk, mengenal ada manusia kanak-kanak, orang muda, orang dewasa, dan kakek nenek, dia mulai belajar tanaman di sekitarnya tumbuh, berkembang, dan mati. Dia mempelajari bahwa serangga, hewan-hewan di sekitarnya lahir, besar, dan akhirnya mati. Dia menyadari bahwa sama dengan dirinya, hewan-hewan itu suatu kali sakit. Dia mulai belajar, mengapa perutnya sakit ketika dia makan sesuatu tanpa cuci tangan.
Dalam kaitannya dengan ilmu sosial, yang perlu dipelajarinya adalah norma-norma hidup bersama di sekolah, di rumah, dan di tempat-tempat umum. Dia belajar untuk mendapatkan sayur-mayur, ibunya perlu datang ke pasar, berinteraksi dengan penjual. Untuk bepergian ke suatu tempat, dia perlu ke terminal, ke stasiun, ke bandara, dan ada orang-orang yang bekerja di sana supaya semuanya lancar. Untuk menjaga supaya masyarakat tertib membuang sampah, membangun rumah dengan teratur, agar antartetangga saling menjaga kenyamanan tinggal, maka di tingkat terendah ada Ketua RT, Ketua RW, Pak Lurah, Pak Kades, hingga akhirnya dia memahami mengapa negara perlu dipimpin seorang Presiden. Banyak masalah-masalah sosial yang perlu diperkenalkan kepada anak kelas atas SD, tetapi belum waktunya dia dipaksa belajar tentang kerumitan organisasi pemerintahan, lembaga-lembaga negara, sebelum dia diajak memahami kerumitan pengaturan masyrakat di tingkat RT/RW-nya.
Jadi, selayaknya SD kelas atas belajar IPA, IPS, Matematika, dan Bahasa secara terpisah. Dengan memadukannya, maka hilanglah esensi pembelajaran dasar-dasar sains dan ilmu sosial yang kontekstual. Pelajaran Bahasa yang dipelajarinya semestinya berkembang pada kemampuannya menulis, membaca dengan bacaan yang kerumitannya berjenjang, memahami kalimat-kalimat yang kompleks, dan berkomunikasi dengan kalimat-kalimat yang lebih kompleks. Kemampuan berbahasanya adalah modal untuk berkomunikasi dalam  bidang sains dan sosial.
Dalam sains dan sosial, anak-anak mulai mempelajari dan mempraktekkan pendekatan ilmiah sederhana untuk membuktikan bahwa air mengalir ke tempat yang rendah, bahwa tanpa cahaya, apapun tidak terlihat oleh mata, bahwa bahwa tanaman tidak dapat tumbuh tanpa air, bahwa air dapat berubah menjadi padat, dan uap. Skill yang diajarkan dalam bidang sains dan sosial adalah penggunaan alat-alat bantu sains, mikroskop, teleskop, termometer, alat ukur, alat timbang, dan pemanfaatan metode berpikir ilmiah.
Dalam pelajaran bahasa, mereka mempelajari tata bahasa yang baku, sekaligus melatih kepekaan karsanya melalui pengenalan susunan kata-kata yang indah, kalimat-kalimat yang cantik untuk menyatakan warna lembayung di langit sore. Dalam pelajaran bahasa, skill yang dilatihkan padanya adalah skill menulis, membaca, dan berkomunikasi.
Bukankah keduanya berbeda dalam hal kognitif, skill/psikomotorik, dan afektif yang harus dicapai? Lalu, mengapa dipaksakan untuk digabungkan dalam tematik terintegratif?
Pelajaran bahasa boleh jadi mengambil topik sains dan sosial dalam bacaan-bacaannya, tetapi dalam mempelajari sains, bahasa adalah alat bantu, dan anak tidak perlu dipaksa mempelajari gaya bahasa hiperbola dalam sains.
Saya tidak tahu negara mana yang menjadi kiblat pemerintah dalam menyusun mapel SD di Kurikulum 2013, tetapi seandainya masih dapat diperbaiki, alangkah baiknya mengembalikan pelajaran IPA dan IPS pada selayaknya, demikian pula Bahasa Indonesia, Matematika pada posisinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar