Minggu, 11 Desember 2016

Implikasi Perkembangan Moral dan Spiritual Terhadap Pendidikan



Implikasi Perkembangan Moral dan Spiritual Terhadap Pendidikan

Untuk mengembangkan moral dan spiritual, pendidikan sekolah formal yang dituntut untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan moral dan spiritual mereka. Sehongga mereka dapat menjadi manusia yang moralis dan religius. Sejatinya, pendidikan tidak boleh menghasilkan manusia bermental benalu dalam masyarakat, yakni lulusan pendidikan formal yang hanya menggantungkan hidup pada pekerjaan formal semata. Pendidikan selayaknya menanamkan kemandirian, kerja keras dan kreatifitas yang dapat membekali manusianya agar bisa survive dan berguna dalam masyarakat (Elmubarok, 2008: 30).
Strategi yang mungkin dilakukan guru disekolah dalam membantu perkembangan moral dan spiritual peserta didik,yaitu sebagai berikut.
a.       Memberikan pendidikan moral dan keagamaan melalui kurikulum tersembunyi, yakni menjadi sekolah bagi atmosfer moral dan agama secara keseluruhan.
b.      Memberikan pendidikan moral secara langsung, yakni pendidikan moral dengan pendidikan pada nilai dan juga sifat selama jangka waktu tertentu atau menyatukan nilai-nilai dan sifat-sifat tersebut kedalam kurikulum.
c.       Memberikan pendekatan moral melalui pendekatan klarifikasi moral, yaitu pendekatan pendidikan moral tidak langsung yang berfokus pada upaya membantu siwa untuk memperoleh kejelasan mengenai tujuan hidup mereka dan apayang berharga untuk dicari.
d.      Menjadikan wahana yang kondusif bagi perserta didik untuk menghayati agamanya, tidak hanya sedekar bersifat teoretis,tetapi penghayatan yang benar benar dikontruksi dari pengakaman keberagamaan.
e.       Membantu peserta didik mengembangkan rasa ketuhanan melaui pendekatan spiritual parenting, seperti dengan cara berikut.
§  Memupuk hubungan dasar anak dengan Tuhan malaui doa setiap hari.
§  Mananyakan kepada anak bagaimana Tuhan terlibat dalam aktivitasnya sehari-hari.
§  Memberikan kesadaran kepada anak bahwa Tuhan akan membimbing kita apabila kita meminta.
Menyuruh anak merenungkan bahwa Tuhan itu adadalam jiwa mereka dengan cara menjelaskan bahwa mereka tidak dapat melihat diri mereka tumbuh atau mendengar darah mereka mengalir, tetapitahu bahwa semua itu sungguh-sungguh terjadi sekalipun mereka tidak melihat apa pun (Desmita,2009: 287).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar